Beberapa komentar:
- Zuhriyah As'ad Untuk yg kemaren ustd,saya belum jelas,sprti yg di cntohkan ustd seorang istri berwasilah u kedekatan dg suami,atau ortu yg anaknya lagi ujjian,yg sprti itu boleh ya?sepertinya mendekat pada Allah klo lagi butuh saja,klo tujuanya tercpai sudah,gimana ustd?
- Ahmad Mudzoffar Jufri @ZA: Memang ada ya orang yg tidak butuh pada Allah? Juga memang ada ya orang ibadah bukan karena lagi butuh pada rahmat Allah, apapun bentuknya? Silakan baca berulang2 dan renungkan dalam2!
- Wildan Ridho Prakoso 4- Karena raja’ (pamrih) pada rahmat&janji imbalan-Nya.
...5- Karena khauf (takut) akan ancaman&pembalasan adil-Nya._____///// itu apa sdah tdk menunjukan ke ikhlasan kita pak? karna kita beramal supaya mendapat rahmt imbalannya dan juga karna takut akan ancamannya...setahu saya mengerjakan amal itu harus karna kita iman saja kpda ALLAH.....mohon penjelasannya PAK>>>.....
- Ahmad Mudzoffar Jufri
@Wildan Ridho Prakoso: Justru itulah yang sedang dijelaskan dan diluruskan! Memangnya iman kepada Allah itu penjelasan rincinya bagaimana? Apa kongkritnya? Seringkali saat ditanya begitu, kebanyakan kita hanya bisa menjawab: ya pokoknya im...an gitu aja! Padahal tidak ada dan tidak dibenarkan dalil "pokoknya" seperti itu dalam iman, dan dalam yang lain2nya. Juga tidak tepat dalam iman, ungkapan "... ya iman gitu aja"! Tapi harus jelas. Harus definitif. Apa implementasinya? Apa alat ukurnya? Nah 5 poin diatas itulah jawabannya! Jadi saat ingin mengukur dan mengetahui, seberapa kadar iman di dada, maka alat ujinya terletak pada jawaban atas pertanyaan2 berikut. Seberapa kadar mahabbah saya kepada Allah? Seberapa tinggi syukur saya atas beragam nikmat-Nya yang terhingga? Seberapa istimewa semangat sami'na wa atha'na saya pada setiap perintah, larangan dan syariah-Nya? Juga seberapa kuat raja' (pengharapan dan pamrih) saya pada limpahan rahmat dan janji imbalaan-nya, baik di dunia maupun lebih2 di akherat? Dan parameter ke-5 bagi penentu iman ini adalah, seberapa besar rasa khauf (takut) saya akan ancaman dan balasan adil-Nya! Jadi faktor2 itulah pengukur iman setiap kita. Dan sekaligus penentu tingkat serta kualitas keikhlasan kita kepada-Nya. Maka sejak sekarang mari beriman dan berikhlas secara lebih jelas serta lebih definitif. Dan jangan lagi beriman juga berikhlas secara "ngglambyar", tidak jelas, dan sulit diukur. Seperti iman dan ikhlas dengan kaidah "pokoknya" atau "gitu aja", dan semacamnya!